Sabtu, 11 Juni 2011

GHASILIL MALAIKAT (ORANG YANG DIMANDIKAN MALAIKAT)





Mekah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan kaum kafir Quraisy di Perang Badr dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Mekah meratapi para korban di Badr dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa diatas angin karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka.

Hingga tibalah saatnya Perang Uhud. Di antara pahlawan perang yang bertempur tanpa mengenal rasa takut pada waktu itu adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Ayahnya adalah seorang tabib yang disebut si Fasik.  Hanzhalah baru saja melangsungkan pernikahan. Saat mendengar gemuruh pertempuran, yang saat itu dia masih berada dalam pelukan istrinya, maka dia segera melepaskan pelukan istrinya dan langsung beranjak untuk berjihad.

Saat sudah terjun kekancah pertempuran berhadapan dengan pasukan musyrikin, dia menyibak barisan hingga dapat berhadapan langsung dengan komandan pasukan musuh, Abu Sufyan bin Harb. Pada saat itu dia sudah dapat menundukan Abu Sufyan, namun hal itu diketahui oleh Syaddad bin Al-Aswad yang kemudian menikamnya hingga meninggal dunia sebagai syahid.

Tatkala perang usai dimana kaum muslimin menghimpun jasad para syuhada dan akan menguburkannya, mereka kehilangan usungan mayat Hanzhalah. Setelah mencari kesana kemari, mereka mendapatkannya di sebuah gundukan tanah yang masih menyisakan guyuran air disana.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam mengabarkan kepada para shahabatnya bahwa malaikat sedang memandikan jasadnya. Lalu beliau bersabda, "Tanyakan kepada keluarganya, ada apa dengan dirinya?"
Lalu mereka bertanya kepada istrinya, dan dikabarkan tentang keadaannya sedang junub saat berangkat perang. Dari kejadian ini Hanzhalah mendapatkan julukan Ghasilul Malaikat (Orang yang dimandikan malaikat). 

Wallahu ta'ala 'alam
Sumber: Sirah Nabawiyah, Syeikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury
Oleh: Abu Rumaysa Iwan Sutedi

http://www.rumah-yatim-indonesia.org

MAAF, JANGAN BANTU AKU


Maaf, Jangan Bantu Aku ( inilah bukti penyesalanku )

Jalannya tertatih menapaki beberapa anak tangga masjid, di setiap anak tangga ia berhenti untuk mengambil nafas panjang. Wajahnya menyeringai setiap kali kakinya menapaki anak tangga, lenguhan nafasnya lumayan terdengar dari jarak beberapa meter. Namun dari bibirnya selalu keluar kalimat “Allahu Akbar”. Dan ucapan “Alhamdulillah” penuh perasaan spontan keluar dari lelaki tua itu setelah anak tangga terakhir berhasil dicapainya. Matanya berbinar, wajahnya berseri sambil melangkah perlahan memasuki ruang utama masjid.

Ia pun mengambil posisi di sisi dinding serambi masjid untuk melaksanakan sholat sunnah sebelum sholat fardhu. Tubuhnya gemetar sepanjang ia berdiri, mungkin alasan itulah ia memilih posisi di sisi dinding agar bisa berpegangan jika hendak bangun dari sujud atau duduk untuk berdiri lagi. Demikian adanya yang terjadi, kakinya gemetar menahan tubuhnya, sedangkan ia harus bersusah payah saat harus berdiri lagi. Sebuah perjuangan tengah dipertontonkan oleh lelaki tua itu, mata ini tak ingin lepas dari gerak-geriknya yang semakin memikat.

Tak sesederhana yang tampak sekilas dari perjuangan sholat yang tengah diperagakan lelaki tua itu. Mulai dari cara ia berjalan memasuki halaman masjid, kemudian tertatih sambil meringis menapaki satu persatu anak tangga, dilanjutkan sholat sunnah di sisi dinding sambil kaki terus gemetar. Nafasnya tersengal menjalani semua itu, bagaikan seorang yang tengah memanggul beban berat di pundaknya yang sama sekali tak bisa ia lepaskan namun harus tetap dipikul beban itu. Kasihan, perasaan ini yang akhirnya terbersit di benak.

Sesaat sebelum iqomat berkumandang, seseorang mendekati lelaki tua ini. Setelah berbasa-basi, berkenalan dan mencoba mengakrabinya, orang itu menyampaikan rasa iba kepadanya dan menyarankan untuk sholat sambil duduk saja jika memang tak kuat untuk berdiri.

Seketika matanya menatap  tajam tepat ke arah mata orang itu. Merasa bersalah orang itu mengeluarkan kata-kata itu kepadanya. “Maaf pak bila kata-kata saya salah, saya hanya…”

Lelaki tua itu segera menepuk pundaknya dan berkata, “Anak muda… saya memaksakan diri berjalan tertatih-tatih dari rumah ke masjid, memaksakan diri sambil menahan sakit menaiki anak tangga satu persatu, memaksakan diri untuk tetap berdiri dalam sholat saya agar Allah tahu betapa menyesalnya saya yang telah menyia-nyiakan masa muda dengan tidak banyak beribadah…”

“Waktu masih gagah seperti Anda, saya tidak banyak belajar agama apalagi menjalankannya. Banyak perintah Allah saya abaikan, sholat hampir selalu saya tinggalkan. Sekarang sudah setua ini saya baru sadar betapa nikmatnya beribadah dan berdekatan dengan Allah. Karenanya, saya abaikan rasa sakit dan letih ini untuk terus sholat dan memerbanyak ibadah lainnya. Saya… hanya ingin Allah melihat saya menyesal telah mengabaikan Dia selagi saya muda” matanya masih menatap anak muda itu yang tertunduk.

Iqomat pun berkumandang, ia menolak untuk dibantu berdiri. Orang itu jadi malu sendiri, bukan kepada lelaki tua itu, melainkan pada dirinya sendiri yang masih gagah namun belum maksimal beribadah. Malu kepada Allah yang masih memberikannya kemampuan untuk banyak beribadah. Astaghfirullah…

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa " (QS.Ali Imron 3:133)

Tak ada kata telat bagi Allah untuk menerima taubat kita, justru Allah sangat sangat rindu dan sangat-sangat bahagia ketika kita berjuang dengan segala keterpaksaan meninggalkan segala bentuk bentuk khilaf dan dosa yang masih sangat susah untuk kita tinggalkan, jangan pula merasa sudah sempurna dengan segala amal yang telah kita kerjakan, maka rasa harap dan takut kita kepada Allah harus senantiasa kita semai dan kita rawat.

ASAL-USUL KUMANDANG ADZAN


(Riwayat : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari)


Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat dmusnahkan.


Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya. Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.

Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama` ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya.  Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisa
dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing -masing menurut waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama `ah dimulai.

Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu cara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuk sholat tepat pada waktunya tiba.

Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.

Saran-saran diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah untuk mencari cara-cara lain.
Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan ? Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb :
"Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja. Orang tersebut malah bertanya," Untuk apa ? Aku menjawabnya,"Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat." Orang itu berkata
lagi,"Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?" Dan aku menjawab " Ya !" Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang , " Allahu Akbar, Allahu Akbar.."
Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,"Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang." Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal."

Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada Rasulullah SAW . Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini. 

Tulisan diambil dari Al-Islam Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber: http://www.rumah-yatim-indonesia.org